Harus Idealis atau Realistis?
Kalo kata Naruto 'inilah jalan ninjaku', kita pun juga punya cara untuk menjalani hidup. Ada orang yang serius; hal sekecil apapun akan difikirkan. Ada orang yang santai; bisa serius, bisa juga kalem pas lagi menghadapi suatu hal. Ada juga orang yang santainya kelewatan; ini mungkin kadar insting dan niat bertahan hidupnya sudah mulai menyentuh ambang batas. ha ha.
Terus bagaimana seharusnya kita menjalani hidup? Berpegang terus dengan prinsip yang kita yakini? Atau justru sebenarnya kita tidak mengerti prinsip hidup kita sendiri? waduh.
Sebenarnya, semua kembali ke bargaining position kita dengan alam semesta. Apa kita sudah cukup power untuk 'memaksa' dunia menyesuaikan dengan pola pikir kita? Atau justru sebaliknya. Jika memang posisi tawar kita tidak lebih tinggi dibanding dengan realita, bukan sesuatu yang direkomendasikan untuk selalu mengedepakan idealism kita. Ibarat kata, saya naik sepeda roda tiga milik keponakan mau di'adu banteng' dengan kereta shinkansen. Secara logika sudah sangat jelas kalo saya sedang tidak waras secara mental. Karena sudah jelas; baik power maupun body saya kalah telak.
Hal ini pernah sekali saya alami. Waktu awal saya mencari kerja selepas lulus kuliah. Singkat cerita banyak perusahaan yang sudah saya lamar (tapi lamar kamu kapan?) dan akhirnya dapat panggilan. Mulai dari lamaran,interview pertama kedua sampai interview terakhir,posisi yang ditawarkan selalu berubah. Saya melamar untuk posisi A. Lulus psikotes lanjut interview HRD ditawarin B. interview ketiga diarahkan posisi C. Sampai akhirnya interview terakhir diwawancara untuk posisi D.
Waktu interview pertama sebenarnya sudah ada menguap semangat saya. Apalagi sampai ditawari 3 posisi berbeda. Dan karena saat itu IDEALISME saya masih begitu tinggi, lebih tinggi dari kesadaran untuk segera mendapatkan pekerjaan, akhirnya saya putuskan untuk tidak gabung di perusahaan itu. Kenapa? Karena saya merasa kecewa, dipermainkan, diobrak-abrik, dan sebagainya. Apa setelah itu saya menyesal? JELAS MENYESAL LAH.
Setelah saya menolak untuk bergabung dengan perusahaan tadi, saya harus menunggu 2 tahun untuk bisa dapat pekerjaan yang lain. kampret emang.
Tapi ya begitulah bagaimana kehidupan ini berjalan. Kadang kita harus tersesat agar tau bahwa jalan itu sesat. Pait memang, lebih manis kamu. :D
Dari pengalaman itu saya banyak belajar, untuk memulai sesuatu jangan terlalu banyak kompromi. Kuasai dulu. Kalau sudah mahir, barulah posisi kita sedikit lebih tinggi untuk tawar menawar dengan kehidupan.
Sebenarnya, semua kembali ke bargaining position kita dengan alam semesta. Apa kita sudah cukup power untuk 'memaksa' dunia menyesuaikan dengan pola pikir kita? Atau justru sebaliknya. Jika memang posisi tawar kita tidak lebih tinggi dibanding dengan realita, bukan sesuatu yang direkomendasikan untuk selalu mengedepakan idealism kita. Ibarat kata, saya naik sepeda roda tiga milik keponakan mau di'adu banteng' dengan kereta shinkansen. Secara logika sudah sangat jelas kalo saya sedang tidak waras secara mental. Karena sudah jelas; baik power maupun body saya kalah telak.
Hal ini pernah sekali saya alami. Waktu awal saya mencari kerja selepas lulus kuliah. Singkat cerita banyak perusahaan yang sudah saya lamar (tapi lamar kamu kapan?) dan akhirnya dapat panggilan. Mulai dari lamaran,interview pertama kedua sampai interview terakhir,posisi yang ditawarkan selalu berubah. Saya melamar untuk posisi A. Lulus psikotes lanjut interview HRD ditawarin B. interview ketiga diarahkan posisi C. Sampai akhirnya interview terakhir diwawancara untuk posisi D.
Waktu interview pertama sebenarnya sudah ada menguap semangat saya. Apalagi sampai ditawari 3 posisi berbeda. Dan karena saat itu IDEALISME saya masih begitu tinggi, lebih tinggi dari kesadaran untuk segera mendapatkan pekerjaan, akhirnya saya putuskan untuk tidak gabung di perusahaan itu. Kenapa? Karena saya merasa kecewa, dipermainkan, diobrak-abrik, dan sebagainya. Apa setelah itu saya menyesal? JELAS MENYESAL LAH.
Setelah saya menolak untuk bergabung dengan perusahaan tadi, saya harus menunggu 2 tahun untuk bisa dapat pekerjaan yang lain. kampret emang.
Tapi ya begitulah bagaimana kehidupan ini berjalan. Kadang kita harus tersesat agar tau bahwa jalan itu sesat. Pait memang, lebih manis kamu. :D
Dari pengalaman itu saya banyak belajar, untuk memulai sesuatu jangan terlalu banyak kompromi. Kuasai dulu. Kalau sudah mahir, barulah posisi kita sedikit lebih tinggi untuk tawar menawar dengan kehidupan.

Komentar
Posting Komentar