Senja Merah Jambu

Aku mengagumi awan. Yang menjadi harap dari gersang kepada air. Tidak hanya setetes, tidak pula berlebih. Hanya semenjana. Menjadi rindu hamparan sabana tandus yang jauh ratusan mil. Yang ditunggu kehadirannya oleh para penggembala untuk berteduh dibawah bayangnya saat sinar matahari tajam menyengat.

Cerita berawal dari ketiadaan menjadi ada. Dari ada hingga menjadi tiada. Yang ada namun tiada. Yang tiada diada-adakan. Awan pun demikian halnya. Menjadi ada dari air di lautan yang menguap oleh sinar matahari. Bersatu menjadi awan hingga angin menerbangkannya tak tentu arah.
Menuju penghujung hari menjelang malam selalu memunculkan romantisme. Antara ombak dengan lintasan cakrawala. Antara perahu nelayan dengan daratan. Antara sahaya uang dengan segudang kerjaan.

Aku hanya memandang ombak. Dengan sesekali terdengar bising suara mesin perahu nelayan memecah riak gelombang. Melamunkan gelisah. Berbicara kepada senja.

Komentar