BELAJAR BERSYUKUR PADA SETIAP HAL
Tuhan menciptakan manusia lebih sempurna daripada ciptaan-ciptaanNYA
yang lain. Salah satu tanda kesempurnaan itu karena manusia diberi nafsu agar
manusia memiliki sisi emosional. Sedih, bahagia, ambisi, dan hal-hal lain yang
terkait dengan kepuasan lahir maupun batin. Selain diberi nafsu, manusia
dibekali pikiran. Pikiran membuat manusia diharapkan bisa mengendalikan hawa
nafsu agar tidak menjadi liar. Agar manusia bisa menguasai nafu. Bukan nafsu
yang menguasai manusia. Pikiran menjadi cahaya dalam kegelapan hati. Pikiran
menjadi batas-batas imajiner untuk menentukan baik dan tidak baik, pantas dan
tidak pantas.
Namun banyak dari
manusia yang gagal mengendalikan nafsu. Entah karena kurang bisa menggunakan
akal pikiran secara jernih, atau karena ada dorongan langsung maupun tak
langsung yang terus-menurus yang terjadi di lingkungan kehidupan. Hal ini sering
menyebabkan manusia cenderung tidak mudah puas. Jika kita tarik jauh ke
belakang, ketidakpuasaan ini sudah terjadi dari awal-awal Tuhan menciptakan
manusia di bumi. Saat Qabil, anak dari manusia pertama, Adam, menolak untuk dinikahkan
dengan saudara seperkandungan Habil, yaitu Labuda. Dia lebih merasa lebih pantas
untuk dinikahkan dengan saudara seperkandungannya sendiri, yaitu Iqlima, yang
memiliki paras yang lebih rupawan. Qabil menolak apa yang diperintahkan oleh
ayahnya yang mana itu adalah perintah dari Tuhan. Qabil meresa dirinya lebih
pantas menikahi Iqlima, bukan dengan Labuda.
Disaat manusia merasa dirinya lebih tahu apa-apa saja yang
lebih baik bagi dirinya, dengan tidak menyukuri apa yang sekarang dia dapatkan,
maka niscaya kesedihan akan menghampiri jika tidak segera menyadari kalau hal
itu ada kesalahan. Manusia memang cenderung lebih mudah melihat suatu keburukan
dari pada kebaikan. Padahal apa yang dipandang buruk bisa jadi itu yang terbaik
untuknya. Apa yang dikira baik bisa jadi itu justru sebaliknya. Maka sebaik-baik
keadaan adalah menyukurinya. Tidak buruk rasanya sesekali menertawakan kesialan
yang kita terima. Karena hal baik tidak selalu diawali dengan yang baik juga.
Pagi tidak bisa menggambarkan bagaimana satu hari itu akan berjalan seperti
apa. Pagi yang cerah bisa saja mendatangkan badai di sore hari. Dan bukan
mustahil jika di pagi yang gelap gulita akan membawa langit cerah di sisa hari
menuju malam.
Nikmati saja bagaimana kehidupan ini berjalan. Jobdesc
manusia hanyalah mencoba dan berusaha pada setiap hal dengan sebaik-baiknya. Dengan
nafsu dan akal yang terukur. Agar kita bisa menjalani setiap hari, setiap momen,
setiap kejadian, baik ataupun buruk, dengan hati penuh syukur. Tidak mudah
memang. Tapi bukan berarti tidak bisa. Gunakan akal dengan bijak. Hidup terlalu
asyik untuk dilewatkan jika kita hanya sibuk menghujat apa yang sudah terjadi.
Tapi memang pada dasarnya manusia itu unik. Bahkan beberapa
bisa dibilang out of the box, atau mungkin out of universe karena
keunikan itu kadang sampai tidak masuk akal dan nalar. Saat musim hujan
datang tak henti-hentinya mengeluh karena hujan yang selalu datang setiap hari.
Lalu apa yang mau diharapkan dari musim hujan? Minta diberi hujan meteor saja
yang turun seperti beberapa juta tahun yang lalu? Harusnya, turunnya hujan
dimusim hujan itu sudah cukup masuk akal. Itu normal. Tapi masih banyak yang
berharap panas sepanjang hari saat musim hujan datang. Berharap boleh. Asal bukan
atas dasar rasa kufur nikmat, mendustakan nikmat. Nanti begitu musim kemarau
datang, eh, tetap saja mengeluh minta diberi hujan. Ada-ada saja memang
makhluk homo sapiens ini.
Sepertinya, golongan orang seperti itu, mungkin saja
termasuk saya, harus mulai melatih untuk melihat semua kejadian dengan perspektif
yang lebih luas. Dunia ini tidak hanya tentang dirimu saja, Kawan. Semuanya
sudah memiliki peran dan fungsi masing-masing. Bisa jadi hujan yang kau hujat
sepanjang musim ini adalah yang ditunggu para petani padi yang saat itu harusnya
sudah masuk masa menyemai benih. Bisa jadi hujan yang kau resahkan ini adalah
yang ditunggu-tunggu atas lahan hutan mereka yang terbakar hebat. Bisa saja
panas terik sepanjang hari ini adalah berkah yang dinanti oleh para pedagang es
dan buah di pinggir jalan. Panas yang kau tolak ini adalah yang diharapkan para
petani tembakau yang sedang menunggu masa panen datang.
Mari banyak bersyukur, berdamai dengan keadaan. Nasihat untuk
diri saya sendiri juga. Rasa syukur selain menjamin ketenangan hati, juga bisa
mendatangkan banyak kebaikan diluar ekspektasi. Jangan sampai kufur membuat
kita kemanusiaan kita terkubur.
Komentar
Posting Komentar