Pekat
Siang telah berlalu, senja telah ditelan cakrawala. Kini berganti dengan malam. Dingin udara makin menusuk di sekujur tubuh. Badai yang datang masih menyisakan angin bertiup kencang. Awan nendung hitam gelap meskipun hujan telah reda. Lampu jalan redup tak mampu menyuguhkan cahaya. Kabut yang turun makin memenjara pandangan mata. Semua sunyi, bahkan katak enggan bernyanyi.
Pagi menjadi titik mula setiap awalan baru. Semesta menyediakan kesempatan yang sangat banyak bagi insan yang mau meraihnya. Setiap pedihnya kesalahan, paitnya kegagalan, itu adalah bagian yang menyertainya. Menjadikan sendu sebagai candu mematikan imaji dan akalmu.
Tapi tak selamanya pagi disambut cerahnya mentari, birunya langit, putihnya awan mengambang. Ada kalanya sisa badai tadi malam masih menyisakan mendung, menahan sinar matahari pagi, menutup tingginya angkasa. Bagaimanapun pagi merekah, segelap apapun, sepeda harus tetap dikayuh. Layar harus tetap terkembang. Seperti pekatnya rinduku.
Komentar
Posting Komentar