30 Menit Hujan di Brazil
Hujan tiba-tiba turun memaksa semua orang di jalan untuk berteduh. Seketika Luciano menepi, berlindung di bawah tenda plastik warung angkringan di trotoar jalan yang wajar terlihat di Botafogo, Brazil. Tak terlihat bungkusan nasi, serenteng kopi sachet, ataupun jajanan lain. Sepertinya sang pemilik warung belum mulai menjajakan jualannya kala itu.
Luciano dan beberapa pengguna jalan lain nampak sedikit kebasahan. Wajar memang, mengingat hujan waktu itu turun tanpa notifikasi. Belum lagi hujan mengguyur deras. Mungkin burung parkit yang sedang beterbangan disekitar sana sampai tak sempat mengangkat jemurannya.
"Sial, kalau dingin seperti ini perutku jadi cepat lapar." keluh Luciano, seorang karyawan swasta yang sudah bekerja di tempat kerjanya saat ini lebih dari 5 tahun.
Sejak kecil, luciano sangat senang menonton film India. Hal itu lantas membuatnya bercita-cita ingin menjadi pawang anconda ketika sudah besar kelak. Jangan heran jika tidak ada kaitannya. Apakah cerita ini harus dibuat masuk akal? Berat sekali tanggungjawab seorang author.
Ketika lulus kuliah sihir, Luciano mencoba mewujudkan cita-citanya. Dari barat sampai timur, selatan ke utara, dari musim duren sampai musim rambutan, lah, dia coba melamar kerja sebagai pawang anaconda. Setiap hari dia terus pantau jobportal. Dia kirim lamaran dengan penuh semangat. Berharap ada yang mau menerimanya.
Setiap telpon genggamnya merk nokia 1110 full set, baterai awet, lecet pemakaian menerima notifikasi telpon atau sms dari nomor yang tidak dia kenal, Luciano langsung menjadi tidak sabar.
"Siapa tau ini panggilan kerja." begitu kurang lebih fikirnya.
Ternyata nomor yang tak dikenal yang menelponnya hanyalan sindikat penipuan dengan modus anaknya tertangkap polisi atas penyalahgunaan narkoba. Karena merasa dipermainkan, dengan kalap Luciano membanting hapenya. Di atas kasur. Maklum, itu hape dia satu-satunya.
Ditambah lagi, sms dari nomor yang tak dikenalpun juga bukan panggilan interview. Itu adalah sms spam untuk menawarkan pinjaman. Akhirnya tak satupun ia mendapatkan panggilan setelah sebulan.
Sudah l7 menit 20 detik hujan masih menyerang dengan derasnya. Bukannya makin reda, tapi makin deras.
"kruuuuuukkk" begitu bunyi lambung Lucio yang makin kelaparan. Hingga orang dengan radius 100km pun bisa mendengarnya. Tiba-tiba,
DUUUAAARRRRRR!!!!
Luciano kaget terheran-heran! Tak disadarinya ada pria paruh baya masuk ke tenda angkringan. Pak Henderson namanya. Efek kejut tadi hanya agar cerita ini menjadi sedikit menyeramkan saja. Pak Henderson adalah sang pengendali kelaparan alias pemilik warung angkringan tempat Luciano berteduh. Ia mulai membuka kerdus dan tas untuk mengambil nasi bungkus dan aneka dagangannya. Sekejap angkringanpun siap.
"Kirain gak buka, Pak." tanya Luciano.
"Alhamdulillah saya masih butuh uang mas. Hehe." Pak Henderson mencoba bercanda.
Tanpa nunggu arahan pemerintah, Luciano langsung pesan susu jahe hangat kesukaan Pak Henderson. Ya bukanlah, kesukaannya sendiri maksudnya. Dengan lahap dia mengambil dua-tiga nasi bungkus, yak jajan teross.
Di sore yang semakin gelap, setidaknya Luciano tidak menunggu hujan reda dalam keadaan kelaparan. Wajahnya terlihat hidup setelah kenyang makan. Tiba saat dia akan membayar, bencana besar datang. Lebih menakutkan daripada hujan deras dan angin kencang waktu itu. Kosong. Ternyata dompet Luciano sepi hingga laba-labapun bersarang disana. Dia lupa kalau sebenarnya dijalan dia berencana mampir mengambil uang di ATM.
"Yaudah, gakpapa mas. Besok kan mampir sini lagi." perkataan Pak Henderson seketika membuat Luciano lega sekaligus haru.
Entah apa yang dipikirkannya waktu itu. 30 menit 12 detik berlalu akhirnya Luciano melanjutkan perjalanan pulang seiring hujan t'lah reda.
Komentar
Posting Komentar