Kemana Angin Membawamu?


"Apa kau dengar suara angin yang berhembus, di muka bumi."

Sejak jutaan tahun lalu sampai sekarang, bumi tempat kita tinggal ini tidak pernah berhenti bergerak layaknya makhluk hidup pada umumnya. Gerak mengelilingi sumbunya ataupun gerak mengelilingi pusat tata surya kita, matahari. Salah satu output dari pergerakan bumi kita yang bulat ini (maaf, penganut flat earth akan ketrigger) adalah angin.

Angin sangat krusial bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Dia bisa menjadi perantara lahirnya kehidupan baru, disisi lain, dalam jumlah yang besar angin juga bisa jadi cukup berbahaya. Angin adalah distributor benih-benih bunga agar bisa menjadi tunas bunga baru di tanah lain. Angin membawa debu pasir dari gurun Sahara di ujung Afrika hingga ke hutan Amazon di benua Amerika sebagai nutrisi untuk tumbuh-tumbuhan disana. Namun, saat angin datang berbondong-bondong, tak hanya manusia, bahkan tumbuhan, ternak dan bangunan tak kan mampu menghindar dari kengeriannya. Bahkan angin yang tidak melakukan apa-apapun bisa mematikan. Angin Duduk. :D

Lalu, bagaimana jika tiba-tiba saja angin berhenti bergerak? Apakah ini tandanya Avatar, sang pengendali empat elemen, menghilang Ketika dunia membutuhkannya? Oh tentu tidak dong, hei. Jika hal itu terjadi, maka pesawat terbang bisa tiba-tiba kehilangan keseimbangannya. Akan ada suatu negara yang mungkin akan tenggelam ditelan air pasang. Beberapa bagian bumi, khususnya yang berada di sepanjang garis khatulistiwa akan merasakan cuaca panas yang sangat ekstrim. Dan banyak hal mengerikan lain yang dapat terjadi. Meskipun tidak terlihat wujudnya, angin memiliki peran penting untuk kehidupan.

Jika kehidupan kita ditentukan oleh angin, apakah salah jika kita hidup sesuai dengan kemana arah angin membawa? Atau kita harus menentukan sendiri kemana arah kehidupan kita, meskipun melawan arah kemana angin pergi.

Ketika musim kemarau tiba, pohon akan menggugurkan daunnya agar ia tetap bisa hidup. Daun yang gugur lalu terbawa angin untuk mempersiapkan tunas baru agar dapat tumbuh. Daun tidak dapat memilih kemana ia pergi. Kemanapun arah angin membawa, ia akan turut serta bersamanya. Menjadi penumpang yang tau diri dan tidak menggerutu ataupun memberontak. Sampai akhirnya ia akan jatuh di tanah baru. Dimanapun daun terjatuh, ia akan menjadi sumber nutrisi untuk tanah agar siap menjadi pondasi dan menyambut kehidupan baru yang akan tumbuh dari dalamnya.

Coba bayangkan bagaimana jadinya jika daun tersebut menolah untuk terbang terbawa angin. Ia merasa tidak yakin dengan masa depan apa yang menantinya setelah ia terbang jauh dari tempat asalnya. Jika ia memilih untuk tetap berada di pohon itu dan menolak ajakan angin, dia tidak hanya bisa membunuh pohon itu sendiri, yang mana ia mendapatkan pasokan makanan darinya, namun juga ia bisa jadi menghambat tumbuhnya tunas baru yang akan menjadi sumber kehidupan bagi banyak kehidupan lain. Cacing-cacing tanah tidak bisa mendapatkan makanan. Burung-burung yang hendaknya ingin membuat sarang untuk anaknya pun urung dilakukan. Ini karena daun terlalu egois dan tidak siap untuk mengahadapi kenyataan.

“Hidup ini keras,jadi biasakanlah dirimu.” Patrick Star.

Tidak ada yang salah dengan prinsip hidup mengikuti arah angin berhembus. Yang salah adalah ketika kita memiliki kekuatan, namun kita malas menggunakannya hanya karena ketakutan berlebih akan apa yang belum tentu terjadi di masa depan. Termasuk kekuatan untuk memilih sesuatu. Salah satunya adalah kekuatan untuk hidup mengikuti arah angin. Bingung, kan? Hahaha.

“Sudah, jalani saja hidupmu dan jangan berhenti berbuat kebaikan. Angin boleh saja berhenti bergerak, tapi cintaku padamu akan tetap hidup.”